DSLRsmosi..


Dimana kaki berpijak, disitu langit dijunjung. Mungkin sekarang, peribahasa itu harus diganti jadi: Dimana kaki berpijak, disitu DSLR terlihat. Tidak terlalu hiperbolis. Hampir di semua tempat di kota-kota besar di negeri kita ini pasti kita bisa melihat benda ini. DSLR menjadi trend, bukan lagi kebutuhan para profesional. DSLR merasuk ke gaya hidup kita.

Pasti diantara teman kita, ada yang punya DSLR, ato jangan-jangan punya benda ini. Pernah ga liat mereka (bahkan anda sendiri) menekuk wajah ketika memfoto anda atau teman-teman anda ketika berfoto-ria. Ketika anda melihat tanda-tanda kemunculan penekukan wajah, tandanya teman anda atau anda sudah DSLRsmosi.


Selanjutnya di DSLRsmosi.. »

KKN kreatif untuk anak kreatif!

Sekedar mengingatkan, jika kalian mencari tulisan pengalan tentang KKN, liat aja post lama dari saia atau post anak-anak UGM yang udah pernah KKN sebelumnya. Pada post kali ini saia cuma mau membantu anak-anak yang ngakunya kreatif untuk mencari Program Pokok mereka yang kalo kata anak jakarte, 'Gue Banget'.. Oia, khususnya buat anak KKN UGM angkatan 2008 ya, soalnya bentar lg mereka KKN dan biasanya lagi dipusingin ama ini.

Apapun tema besar KKN kalian, jangan sampai kalian dipusingkan dengan Program Pokok yang harus kalian ambil. Jangan sampai kalian telat menyadari apa yang mau kalian ambil, karena Program Pokok ini bisa diganti laporannya seiring bergantinya hari ketika kalian KKN. Pengalaman saia dulu cukup buruk, dulu saia baru menyadari hal ini ketika sudah hampir selesai KKN, jadi otomatis saia melakukan hal yang juga dilakukan oleh akuntan busuk, manipulasi laporan.

Beruntunglah untuk anak akuntansi, seluruh laporan ketika KKN adalah seperti membuat laporan keuangan, jadi, ini bukanlah hal yang sulit untuk kalian! Yang harus diingat: Jurnal-lah seluruh kegiatan yang berhubungan dengan Program Pokok setiap hari!

Walaupun tema besar KKN dari tahun-ke tahun adalah tetap sama, Sustainable Development, tapi tema dari tiap unit KKN selalu unik di tiap tempat. Ada yang membenahi lampu merah di kampus UGM, sampai masalah sustainable tourism seperti di KKN saia. Setidaknya carilah tema yang 'menjanjikan' kemakmuran bagi desanya, karena seperti ketika caleg-capres berkampanye, poleslah visi-misi-mu, maka seua orang tak akan melihat maksud dibaliknya.

Jadi, kalo saran dari saia. Resapi makna tema besar KKN dan juga tema KKN kalian, kemudian sinkronisasikan dengan hobi kalian. Pada proses pembutan Program Pokok, kalian boleh saja Idealis layaknya kaum birokrat, tapi ingat! Hal yang paling afdol buat kamu kerjain, adalah sesuatu yang kamu cintai, dan hasilnya akan jauh lebih maksimal daripada mengerjakan yang kamu tak tahu, dan cuma asal jadi!

Jangan pasang patokan KKN terdahulu untuk membuat program pokok. Untuk membuat program pokok haya dibutuhkah passion pada program pokok itu sendiri! Jika kamu suka menjadi mak comblang, buatlah Program mencomblangi anak-anak desa. Jika suka buang air tetapi disana tak ada WC, maka buatlah WC. Jika anda suka pekerjaan yang membosanakan, maka benahilah tata desa mereka! Taka ada batasan pada pembuatan program pokok ini, kecuali tema KKN unit kalian dan program kalian juga harus menyehatkan desa kalian, jangan membuat program yang unhealthy.

(Mungkin) langkah-langkah pembuatan program pokok:
  1. Cermati tema besar KKN PPM UGM dan maknai tema dari Unit KKN-mu (sok bener bahasanya!)
  2. Carilah passionmu, hobimu, ataupun sesuatu yang kamu minati!
  3. Kombinasikan, campurkan, sintesiskan, kedua tema besar tersebut dengan hobimu! Jangan takut untuk bereksperimen.
  4. Jika sudah jadi sebuah program, parameter utama kalian adalah program kalian harus sejalan dengan tema unit kalian.
  5. Sudah sreg dengan program ini? Tidak? Kembali ke point 2.
  6. Jika sudah sreg, maka bertaubatlah, dan lakukan perogram itu ketika KKN.
Memang, jika ditelaah sejuta kali, posting ini adalah krusial, kritikal, tapi tak penting untuk dipublish, jadi, seperti biasa, Semoga tulisan ini membantu anda! Setidaknya jadi teman membaca di wc!

-----------------------------------------------------------------------

FYI, program saia dulu:
  1. Membuat stok foto untuk parawisata desa, rincian kegiatan cuma baca resource, moto, ama jalan-jalan < (love it)
  2. Membuat logo parawisata desa, rincian kegiatan cuma baca resource ama ngedesain < (love it)
  3. Membantu Posyandu keliling, rincian kegiatan cuma ke puskesmas ama maen ama anak kecil < (love it)
  4. Koperasi, padahal realisasinya cuma buat kop surat :p < (hate it)
  5. Lupa, kayaknya tentang fotografi atau desain juga deh :p

Antara Pak Suwaji, Sapi, dan Janji

Text by Wana, Photo by Sasa
Dari balik portal pemungutan retribusi parkir 'wisata merapi' terlihat batas antara hijau dan abu-abu, batas terakhir dimana awan panas menampakkan keganasannya. Tak jauh dari batas tersebut terlihat sebuah rumah, sepertinya adalah rumah terakhir yang terkena awan panas. Tapi, siapa sangka kalau rumah ini dulunya adalah salah satu tempat tinggal sub-unit KKN PPM UGM unit 62.
Begitu tiba disana, saya dan teman saya, Sasa‒ yang ternyata adalah anggota KKN PPM UGM unit 62‒ sontak kaget. Bagaimana tidak, dulunya tempat ini adalah tempat menginap teman seperjuangannya ketika KKN. Semua hijau yang ada di daerah ini disulap menjadi abu-abu bak foto penuh warna yang di sulap menjadi black-and-white di Photoshop.

Rangkaian kursi tempat bersantai mereka di depan rumah kini bolong di beberapa titik karena tak kuat menahan panas, lubang dan gundukan tanah semua rata karena terisi oleh material vulkanik, pepohonan hijau semua menjadi gundul karena awan panas. Seperti itulah pemandangan awal ketika kami sampai disana.

Ketika kami melangkah masuk ke area rumah tersebut, seorang mbah-mbah muncul. Ternyata dia adalah mbah yang tinggal di rumah ini, sepertinya dia adalah ibu dari pemilik rumah ini. Kemudian Sasa bertanya, "Pak Suwaji ada?". Oh, ternyata yang memiliki rumah ini adalah Pak Suwaji, saya baru sadar.

Kami masuk lebih dalam, dan bertemu dengan Ibu Suwaji, diapun menyapa kami dan tersenyum, dan kamipun mengobrol kecil. Ternyata Pak Suwaji sedang membenahi atapnya yang jebol karena terkena awan panas dan material vulkanik, di kandang sapinya yang kini kosong.

Tak lama setelah menyadari kedatangan kami, Pak Suwaji pun turun. Kamipun mengobrol kecil dengan Keluarga Suwaji. Ternyata status mereka masih pengungsi, dan mereka belum diijinkan pulang oleh Pemerintah. Saat ini pun mereka pulang hanya untuk membenahi apa yang bisa dibenahi di rumah mereka.

Ternyata, setelah kami mengobrol dengan mereka, mereka dengan terbuka menyebutkan keadaan mereka. Rumah mereka rusak lumayan parah di atap. Sistem pengairan di daerah tersebut putus, dan Keluarga Suwaji pun terkena dampaknya. Beberapa sapi mereka mati dengan mengenaskan, semuanya loncat ke jurang di belakang kandang karena bingung harus lari kemana, begitu juga dengan anak sapi yang baru saja dilahirkan ke dunia ini. Ayam mereka mati di dalam lubang, mungkin mereka juga bingung harus kemana.

Rumahnya berantakan, Asetnya yang berupa ternak semua lenyap, bahkan air yang tadinya mengalir dengan sangat lancar kini kering kerontang. Tapi, soal urusan atap sudah bisa dibenahi, dan terimakasih kepada para donatur air bersih, kini airpun dapat dinikmati walaupun keran tidak berjalan.

Hanya satu masalahnya. Sapi.

umbulharjo-11
Tengkorak dari anak sapi milik pak Suwaji

Pada 5 November 2010, Pemerintah berjanji akan mengganti sapi-sapi milik warga korban tragedi merapi ini (Detik.com). Angka Rp 100 miliarpun dipampang di berbagai media dan dijajikan akan digelontorkan. Beberapa hari kemudian, tepatnya tanggal 13 November 2010, budget penggantian sapi ini ditambah sebesar Rp 61 miliar (Republika.co.id). Warga menjadi tenang karena sapi mereka dijanjikan akan diganti.

Rabu, 1 Desember 2010. Pemerintah siap membeli 3.811 ekor sapi peternak korban merapi (Metrotvnews.com). Sebuah berita yang sangat baik bagi para korban tragedi merapi, akhirnya hak mereka akan dikembalikan. Tapi ternyata ada berita lain, 6 Desember 2010, ratusan warga yang tergabung dalam Forum rakyat Korban Merapi (Forkom) mendatangi kantor Gubernur DIY untuk meminta gati rugi atas sapi yang mati (Kompas.com). Tandanya sapi mereka masih belum diganti, dan mereka sudah benar-benar butuh uang ganti rugi itu.

Pak Suwaji pasrah. Ketika kami tanya apakah sapinya yang mati lompat ke jurang itu akan diganti oleh Pemerintah apa tidak, Pak Suwaji cuma tersenyum dan menjawab 'saya ndak tahu' (21 Desember 2010). Kabar burung yang beredar mengabarkan sapinya akan diganti, kabar lainnya menyatakan bahwa sapinya tidak akan diganti. Pak Suwaji masih senyum dan terlihat pasrah. Tidak terlihat keinginan yang menggebu-gebu untuk meminta ganti rugi ke Pemerintah.

Kemudian saya berpikir, apakah mungkin bapak yang sudah meninggalkan sapinya, karena sebuah janji Pemerintah, akhirnya akan tidak dapat penggantinya? Kalau sampai memang hal ini terjadi berarti memang parah benar Pemerintah kita ini. Saya tidak dapat berkata apa-apa lagi.

Seharusnya Pemerintah cepat-cepat mengganti uang para korban ini. Karena mungkin hanya uang inilah sisa harta benda mereka, dan dengan uang inilah mereka bisa melanjutkan hidupnya. Uang ini mungkin akan dipakai untuk mereka melakukan usaha, atau mungkin hal lainnya. Mana katanya janji Pemerintah yang katanya pro rakyat, kok sampai sekarang belum diganti juga sapi mereka, teriak benak saya.

Konsentrasi saya pecah. Bukan karena kepala saya meledak memikirkan janji yang tinggal janji, tapi karena Ibu Suwaji memanggil kami dan menjamu kami dengan Air Mineral (di labelnya tertuliskan Mata Air Kaliurang yang entah masih ada apa tidak sekarang) dan Biskuit, dan kami akan dibuatkan Sarimi oleh ibu. Tapi sayang, kami harus pergi ke destinasi selanjutnya karena langit mulai menggelap.

Kamipun beranjak pulang. Pamit kamipun dibalas senyum ramah penuh kehangatan dari Keluarga Suwaji. Kehilangan harta dunia bukanlah alasan untuk menyerah pada hidup. Keluarga Suwaji telah menunjukkannya pada saya. Walau sapi-sapi mereka telah hilang, dan janji Pemerintah akan tetap menjadi janji, mereka tetap melanjutkan hidup dengan legowo.

Semoga ketika saya datang di kunjungan berikutnya, rumah mereka telah terbenahi, terdengar suara sapi menge-moo lagi, dan janji Pemerintah yang telah dilaksanakan. Dan pastinya, masih ada senyuman ramah dari Keluarga Suwaji.